Pernah mendengar mengenai Kanker Nasofaring? Aku secara pribadi baru-baru ini mendengar tentang Kanker ini. Sehingga sangat cocok dibuat di blog ku dengan maksud, agar memerikan pengetahuan baru tentang Kanker ini.
Nasofaring adalah salah satu bagian dari faring. Faring atau tekak adalah saluran yang terletak antara rongga hidung serta rongga mulut dan kerongkongan. Penyakit Kanker Nasofaring (KNF) adalah kanker yang berada dalam daerah Nasofaring. Berbeda dengan kanker payudara yang mudah terlihat dan teraba, KNF ini sangat sukar untuk terlihat maupun diraba. Dengan arti lain, kemungkinan bisa luput dari pemeriksaan dokter pada awalnya. Kanker Nasofaring adalah jenis kanker dengan keganasan yang menduduki peringkat tertinggi di bidang Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).
Kanker Nasofaring (NPC) atau lebih dikenal sebagai kanker hidung terjadi saat sel kanker yang berkembang berasal dari nasofaring, yang terletak di area belakang rongga hidung dan di atas bagian belakang tenggorokan. Karena keunikannya, nasopharyngeal carcinoma (NPC) lebih sering dibahas terpisah dari kanker yang menyerang leher dan kepala. Pada tahun 2003 dan 2007, kanker ini merupakan kanker paling umum urutan ke-7 diantara pria di Singapura dan ke-12 diantara wanita, dengan angka 4,6 % kematian akibat kanker pada pria dan 1,7% pada wanita. Diantara 3 etnis utama di Singapura, NPC paling sering terjadi pada etnis Cina diikuti etnis Melayu. Kanker ini sangat langka terjadi pada etnis India.
Jika kanker ditemukan dalam stadium awal maka bisa disembuhkan; sementara tingkat kekambuhannya sekitar 15% jika saat ditemukan pada stadium I atau II. Sayangnya mayoritas penderita kanker nasofaring baru berobat saat stadiumnya sudah III atau IV; sebab pada stadium III atau IV biasanya kanker nasofaring memperlihatkan tanda / gejala jelas yang berupa benjolan di daerah leher. Padahal, terlihatnya benjolan tersebut merupakan tanda bahwa kanker nasofaring telah bermetastasis atau menyebar ke leher; yang berarti sudah masuk ke stadium lanjut. Fakta ini memprihatinkan karena pada stadium III dan IV harapan hidup si penderita sebetulnya sudah menipis.
Pengobatan kanker nasofaring selalu memerlukan pemantauan lanjutan. Tujuan pemantauan tersebut untuk mengetahui apakah terapi yang telah dilakukan hasilnya baik atau tidak. Untuk pemantauan lanjutan terhadap pengobatan kanker nasofaring, seorang peneliti UI mengemukakan bahwa pemantauan terhadap respons terapi bisa dilihat dari eksistensi DNA virus EBV (Epstein Barr Virus). Sementara dalam studi sebelumnya diketahui bahwa jumlah DNA-EBV yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darah berhubungan dengan ukuran tumor. Oleh karena itu, eksistensi DNA-EBV sebelum dan setelah terapi akan terkait dengan besarnya tumor.
Pada pengukuran awal, yakni sebelum terapi, terdeteksi bahwa DNA-EBV pada penderita kanker